logo
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

MENU
"99" TIME

PRESIDENT DIRECTOR

 


"99" CALL CENTRE

TELKOMSEL

085 220 220 120


INDOSAT

085 759 151 333


XL

087 821 333 789

"99" PIN BLACKBERRY

 

 

"99" BANK PAYMENT

 

No Rek:

13 0000 22 69 218

a / n

Muhammad Toni Darussalam

 


No Rek:

777 107 6 207

a / n

Muhammad Toni Darussalam

 

No Rek:

 076 10100 282 1503 

a / n

Muhammad Toni Darussalam

 


No Rek:

006 020 15 000 47 295

a / n

Muhammad Toni Darussalam

 

No Rek:

135vDWuDcLJYdM4dRw28dtghFLHY9tKptU

a / n

Muhammad Toni Darussalam


"99" FACE BOOK
"99" TWITTER
We are Supported By :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

____________________________

===============================

 

* Biarpun sederhana dalam Gaya, tetapi kaya dalam Karya.


* Hargailah musuhmu karena dia lebih tahu dimana letak kesalahanmu.


* Sesuatu yang kecil akan nampak besar bagi orang yang cita-citanya kecil, Sesuatu yang besar akan nampak kecil bagi orang yang cita-citanya besar.


* Kegagalan cinta karena cita-cita itu wajar, akan tetapi kegagalan cita-cita karena cinta itu kurang ajar.


* Hidup tanpa cita-cita adalah mati, cita-cita tanpa berusaha adalah mimpi.


* Orang sukses menganggap masalah sebagai batu loncatan, orang gagal menganggap masalah sebagai musibah.


* Ketabahan dan kajujuran adalah kebijakan terbaik di dalam mengemas kehidupan yang penuh makna dalam setiap peristiwa.


* Santai dalam penampilan, serius dalam pemikiran.


*Rasa percaya diri adalah kunci rahasia pertama dari sukses seseorang.


* Bicara itu ibarat warna sekuntum bunga, sedangkan diam itu adalah wewangiannya.


* Kegagalan hari ini bukan berarti gagal selamanya, cobalah melangkah dari satu kenyataan bahwa hidup adalah kesempatan.


* Jangan mencari lubang kemaksiatan, tapi carilah lubang kemaslahatan.


* Hari kemarin adalah kenangan, hari sekarang adalah kenyataan, dan hari esok adalah harapan.


* Jangan takut gagal sebelum mencoba, jangan takut jatuh sebelum melangkah, jangan tunda kesempatan yang ada, kesuksesan adalah milik kita yang selalu mencoba.


* Hidup ini bukanlah undian jangan harap untung besar kecuali dengan perjuangan.


* Maut bukanlah kehilangan terbasar dalam hidup, kehilangan terbesar adalah apa yang mati dalam sanubari sementara kita masih hidup.


* Hilangkanlah rasa gengsi selagi ada dalam jalur Mardhotillah.

 

* Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu. (Ali bin Abi Thalib)

 

* Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku. (Umar bin Khattab)

 

* Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. (Umar bin Kattab)

 

* Tanda cinta kepada Allah adalah banyak mengingatNya, karena tidaklah engkau menyukai sesuatu kecuali engkau akan banyak mengingatnya. Ar Rabi’ bin Anas. (Jami’ al ulum wal Hikam, Ibnu Rajab)

 

* Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar (cinta) dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya. Salman al Farisi (Az Zuhd, Imam Ahmad)

 

* Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu suatu saat nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu suatu saat nanti akan jadi kekasihmu. (Ali bin Abi Thalib)


image

 

AL-HIKMAH
Cisoka-Tangerang-Banten


Sejarah Berdirinya Al-Hikmah

Al-Hikmah sebelum bernama Al-Hikmah dipelajari oleh Pak Toha (sebagai Polisi) dari pesantren, kemudian dari Pak Toha dipelajari oleh H. Syaki Abdul Syukur sebagai seorang santri dan jawara, kemudian saya sebagai anak didik H. Syaki Abdul Syukur akan mengembalikan ke pesantren dan akan saya sebarkan kembali ke seluruh jajaran.

Sekelumit riwayat mengenai Pak Toha, konon semenjak kecil Pak Toha hanya bercita-cita ingin punya ilmu ini (Al-Hikmah), maka berangkatlah Pak Toha ke pesantren di daerah Banten selama 7 (tujuh) tahun, namun hasilnya hanya mendapat ilmu Qiro’at, Fiqih dan Silat Cipecut. Setelah 7 tahun Pak Toha berpikir, biaya sudah habis namun ilmu yang dicita-citakan belum juga didapat. Akhirnya Pak Toha pulang dari pesantren kerumahnya yang berada di Jakarta. Ditengah perjalanan di atas kereta api, yang Insya Allah jumlah dari gerbong kereta api tersebut adalah sebanyak 6 gerbong. Beliau duduk melamun memikirkan biaya telah habis, namun ilmu yang dicita-citakan belum didapat.

Ketika sedang terbuai dalam lamunan tiba-tiba datanglah 3 (tiga) orang berpakaian jawara menyapanya. Sambil duduk salah seorang dari mereka berkata : “Ada ilmu yang dibaca dua kalimat syahadat, tapi bila ditunjuk ke orang yang berniat jahat, maka orang tersebut langsung terpental”. Pak Toha kaget karena itulah salah satu ciri ilmu yg dia idam-idamkan, lalu bertanya : “Ilmu apa yang tadi diceritakan dan dimana saya bisa mempelajarinya?”. Kemudian tanpa banyak bicara salah seorang dari ke 3 orang tersebut mengambil bungkusan rokok yang isinya hanya tingal 1 (satu) batang saja, lalu bungkus rokok itu dipakai untuk menuliskan satu alamat pesantren tempat keberadaan ilmu tersebut. Pada saat membaca alamat tersebut kemudian Pak Toha menoleh ke arah 3 orang jawara tadi, namun ke 3 orang jawara itu tiba-tiba menghilang. Setelah dicari di 6 gerbong, ke 3 orang tersebut tidak dapat ditemukan.

Sangat disesalkan bagi kita sebagai ikhwan/akhwat Al-Hikmah, bahwa kita tidak diberitahukan alamat atau nama kampung yang tertera ditulisan pada bungkus rokok itu. Dan setelah menempuh perjalanan, akhirnya PakToha pun sampai dirumahnya. Setiba dirumah beliau disambut oleh Bapaknya, dengan pertanyaaan : “Gimana Toha, apakah yang kamu cita-citakan sudah berhasil?”. Pak Toha menjawab : “Belum berhasil Pak, namun Pak Toha menceritakan kejadian sewaktu dalam perjalanan pulang, ada 3 orang di kereta api yang memberi saya alamat, yang kemudian cerita Pak Toha itu membangkitkan semangat Bapaknya lagi.

Pada saat itu Bapaknya Pak Toha mempunyai seekor kuda dan delman, di karenakan pada saat itu pula biaya untuk membekali Pak Toha telah habis maka dijuallah kuda dan delman tersebut, seharga Rp. 40,- (empat puluh rupiah) dengan tujuan untuk dipakai biaya Pak Toha mencari Ilmu demi tercapainya keinginan Pak Toha sebagai anaknya. Hingga akhirnya Bapaknya Pak Toha beralih profesi menjadi tukang daun dan tali. Alkisah berangkatlah Pak Toha dari rumahnya di Jakarta, menuju pesantren yang alamatnya di tuliskan oleh salah satu jawara di kereta, naik di satu halte dan turun di halte yang lain. Tetapi setiap ditanya berhenti di halte yang mana? Pak Toha selalu menjawab : “diam kamu!”. Setelah turun di halte terakhir, Pak Toha berjalan kaki melewati sawah yang luas, pada saat itu sedang panen. Sampai ditengah persawahan tibalah saatnya waktu maghrib, akhirnya Pak Toha pun membabat jerami (pohon padi) untuk digunakan sebagai alas tidur dan sisanya dipakai sebagai selimut. Di kelelahan dan kehinangan malam Pak Toha pun tertidur, hingga Pak Toha terbangun diwaktu subuh.

Setelah itu Pak Toha melanjutkan perjalanannya menuju alamat pesantren yang tertera di bungkus rokok itu. Singkat cerita Pak Toha tiba di pesantren pada saat menjelang waktu magrib. Pak Toha mengucapkan salam dan dijawab oleh Kyai pesantren tersebut dengan wa’alaikum salam. Kyai tersebut lalu bertanya : "mau ke mana kamu Toha?”. Pak Toha kaget dan tertegun (karena Kyai itu tahu namanya) sambil menjawab : “Saya hanya ingin mencari ilmu Kyai”. Ditempatkanlah Pak Toha di masjid oleh Kyai tersebut, lalu Kiayi itu berkata: “karena ilmu Qiroat dan Fiqih kamu sudah cukup, maka kamu tidak perlu lagi belajar seperti santri-santri yang lain, kamu hanya cukup berkhidmat saja ketika waktu sholat tiba kamu harus mengisi air tempat wudhu”. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh Pak Toha selama 3 tahun kurang 10 hari.

Pada saat itu santri dari Kyai tersebut berjumlah sebanyak kurang lebih 300 (tiga ratus) orang. Sepengetahuan Pak Toha selama 3 tahun kurang dari 10 hari itu, Pak Toha belum pernah melihat Kyai tersebut melaksanakan sholat di masjid, baik melaksanakan sholat yang 5 (lima) waktu ataupun sholat jum’at. Hanya saja bila datang waktu siang selepas waktu dhuha, Kyai tersebut mengajak Pak Toha untuk menanam padi, singkong dan jenis palawija lainnya. Setelah 3 tahun kurang 10 hari Pak Toha merasa tidak belajar apapun kemudian pada suatu hari tepatnya pada waktu shubuh Pak Toha membawa Al-Qur’an menghadap Kyai tersebut dengan maksud ingin belajar lagi mengaji. Namun keinginannya di tolak oleh Kyai tersebut seraya berkata: “Toha, Ilmu qiro’at kamu sudah cukup kamu pelajari dulu di Banten’’, kemudian Pak Toha diberi uang se-gobang atau 5 (lima) sen, lalu disuruh membeli daun kawung (daun kawung/aren; daun mudanya yang suka di pergunakan untuk membungkus tembakau ketika membuat sebatang rokok pada zaman dahulu) dan berpesan kepada Pak Toha: “kamu tunggu di mesjid dan jangan tidur sebelum saya datang”.

Pada waktu itu uang se-gobang dapat daun kawung sebanyak 5 (lima) ikat dan di bawalah daun kawung itu ke masjid. Sesuai dengan pesan, Pak Toha menunggu di masjid dari subuh sampai kurang lebih jam 02:00 WIB dini hari. Akhirnya Kyai tersebut datang memasuki masjid. Pada saat itu Pak Toha sedang duduk ditiang masjid tengah, sesampainya di dalam masjid Kyai tersebut mengucapkan salam dan di jawab oleh Pak Toha dengan wa’alaikum salam. Sambil duduk Kyai itu berkata; “Toha, ternyata niat kamu memang sudah sungguh-sungguh”. Duduklah Kyai tersebut berhadapan dengan Pak Toha yang pada waktu itu duduk menghadap arah kiblat, maka disitulah jatuh syarat ngerawat bahwa si murid harus menghadap arah kiblat dan Pembina atau Perawat Al-Hikmah menghadap ke arah si murid, yaitu saling berhadapan. Setelah duduk saling berhadapan Kyai tersebut pun bertanya tentang daun kawung yang dipesannya. Pak Toha mengeluarkan ke 5 (lima) ikat daun kawung tersebut, lalu mulailah Kyai tersebut mencabuti satu persatu daun kawung itu yang ternyata di dalamnya sudah tertulis ayat-ayat Al-Qur’an, sambil mencabut daun kawung Kyai tersebut bertanya “ini yang kamu cari Toha ?“. Pak Toha menjawab : “ bukan Kyai“. Terus menerus seperti itu, sampai akhirnya daun kawung yang 5 (lima) ikat tersebut hanya tinggal tersisa 2 (dua) lembar saja. Lalu Kyai tersebut memegang kedua lembar daun kawung yang tersisa sambil bertanya : “Toha setiap yang dicabut tadi terdapat tulisan ayat Al-Qur’an, tapi kenapa kamu menolaknya?”. Pak Toha menjawab “maaf Kyai, bukan itu yang saya cari“. Selanjutnya Kyai tersebut berkata lagi : “bagaimana kalau yang kamu cari tidak ada disini (2 lembar daun kawung yang tersisa)?“. Pak Toha menjawab kembali: “saya ridho kalau memang tidak ada, tapi karena ilmu itu diturunkan kedunia, tolong saya diberi petunjuk”. Kyai tersebut tersenyum sambil berkata : “tenang kamu Toha“, lalu Kyai tersebut mencabut 2 lembar daun kawung yang tersisa sambil membaca dua kalimat Syahadat, ternyata daun kawung itu bertuliskan dua kalimat Syahadat, “Benar itu Kyai !“ seru Pak Toha, namun Kyai tersebut membelah daun kawung tersebut sambil berkata : “semua yang bergerak diperut adalah hak kamu dan yang bergerak di tangan adalah hak H. Amilin”. Pada waktu itu H. Amilin baru berusia 7 (tujuh) tahun, tapi sudah dipanggil Haji. Kyai tersebut berkata : “pada suatu hari nanti akan ada anak buah kamu yang dapat menyatukan ilmu ini”. Terjadi perbedaan pendapat antara murid Pak Toha dengan murid H. Amilin, bahwa “bohong H. Syaki ngaku- ngaku muridnya H. Amilin“. Kebenarannya, pada waktu itu Pak Toha mempunyai 60 (enam puluh) perwakilan yang diantaranya termasuk Abah H. Syaki, namun dari ke 60 (enam puluh) perwakilan tersebut hanya Abah H. Syaki yang menerima surat dari Pak Toha untuk belajar ke H. Amilin di Garut (asli Garut dan berdomisili di Lengkong kota Bandung). Ini fakta yang menguatkan bahwa Abah H. Syaki adalah termasuk salah satu muridnya H. Amilin.

Segitu lamanya perjuangan Pak Toha untuk mendapatkan ilmu yang dia idam-idamkan, itulah jerih payahnya guru kita, orang tua kita atas ilmu Al-Hikmah yang sekarang kita miliki. Oleh karena itu Pak Toha ketika membicarakan ilmu ini beliau suka menangis, karena merasa dan melihat untuk memiliki ilmu ini anak sekarang begitu mudahnya. Padahal pada waktu mendapatkan ilmu ini beliau begitu perihatin.

Setelah 3 (tiga) tahun kurang 10 (sepuluh) hari dan merasa telah mendapatkan ilmu yang diinginkanya, Pak Toha pun pulang kerumahnya. Setelah sampai dirumah, di sambut oleh adiknya yang bernama Sukardi yang kebetulan pada waktu itu sedang kalah main/judi. ”Wah kebetulan Toha kamu pulang, ajarin gue silat Cipecut nih!” ucap Sukardi. Lalu Pak Toha pun bersedia mengajari adiknya. Namun setelah belajar dari mulai waktu isya sampai menjelang subuh, Sukardi tidak bisa mempelajari ilmu silat.

Setelah waktu subuh tiba dan pada waktu itu ibunya Pak Toha sedang menggoreng singkong diatas sebuah wajan atau kuali, keduanya sudah merasa kelelahan. Pak Toha pun sedikit lepas kontrol dan berkata, ”goblog amat kamu, belajar silat begini aja nggak bisa-bisa”. Sukardi yang mendengar omongan seperti itu merasa tersinggung dan langsung emosi, maka dia menyerang berniat memukul Pak Toha, namun Pak Toha secara reflek sambil menunjuk sukardi sehingga terpental menduduki kuali yang sedang dipakai menggoreng singkong. Si ibu menjerit-jerit ketakutan, namun bapaknya Pak Toha bersorak girang sambil berkata “nggak percuma aku habis modal, akhirnya anakku berhasil mendapatkan ilmu yang diinginkannya”. Sehabis kejadian itu akhirnya Sukardi berkata, ”ngapain lu ngajarin gue silat cipecut, itu aja yang lu ajarin ke gue”, di situlah pertama kali Pak Toha mengajarkan ilmu Al-Hikmah kepada adiknya Sukardi dan jatuh kebiasaan dimana kita ikhwan Al-Hikmah disyahkan menjadi Pembina atau Perawat Al-Hikmah, dihimbau untuk membina atau merawat keluarga terlebih dahulu sebelum orang lain. Setelah diajarkan ilmu Al-Hikmah, akhirnya Sukardi berangkat main/judi lagi. Tetapi begitu Sukardi main/judi dia kalah lagi, maka di ikatlah lawan main judinya itu oleh Sukardi hinga semuanya tampak bengong seperti patung dan di ambilah semua uangnya oleh Sukardi. Lalu Sukardi pulang kerumah dan kejadian itu diketahui oleh Pak Toha. Pak Toha lalu menegur Sukardi : “ngak boleh sukardi, uang itu harus dikembalikan”. Tapi Sukardi membantah dengan ucapan “ngak bisa! gue udah kalah lebih dari 20 (dua puluh) kambing disitu “. Akhirnya diambilah uang tersebut oleh Pak Toha sebesar harga 20 (dua puluh) kambing dan sisanya dikembalikan. Dari kejadian tersebut diatas jatuh sumpah Pak Toha, bahwa setiap muslimin/ muslimat yang ingin masuk atau belajar ilmu Al-Hikmah harus bisa dan mau mengerjakan segala perintah Alllah S.W.T. dan menjauhi segala laranganNya.


Siapakah Abah Syaki???
Diceritakan bahwa masa dahulu itu, Abah Saki sempat menjadi Centeng di Tg.Priok, dan Abah Syaki ternyata juga mahir dalam bermain silat yang sifatnya fisik, namun tidak diceritakan Silat apakah yang dipegang oleh Abah Syaki. Sehingga ketika bertemu dengan Abah Toha, segera saja Abah Syaki menjajalnya dengan menyerang secara fisik.., dan hasilnya..., Abah Syaki sampai terjerembab jatuh bahkan dikatakan sampai nyungsep masuk ke got. Itulah sebabnya mengapa kemudian diceritakan Abah Syaki menyatakan takluk dan langsung berguru kepada Abah Toha. Setelah pelajaran dirasa cukup, Abah Toha kemudian memerintahkannya untuk melanjutkan pelajaran kepada Abah H. ‘Amilin yang berdomisili di Lengkong Kota Bandung.

Diceritakan kemudian, Abah segera berangkat ke Bandung dan perjumpaanpun terjadi di tengah sawah tatkala Abah bertemu dengan seorang petani yang berperawakan kecil lalu bertanya dimanakah rumahnya Abah H. Amilin. Lalu disambut dengan pertanyaan lagi, untuk apakah kamu mau kesana. Lalu dijawab Abah, mau berguru sesuai amanat dari Abah Toha. Yang ada, Abah segera ditantang berkelahi oleh petani itu dan segera saja Abah melayani dengan mengeluarkan jurus silatnya.. dan terjadi lagi... hanya dengan sedikit gerakan mengibas.., Abah langsung terjatuh dan tidak bisa bergerak.. Akhirnya petani itu tersenyum, dan kemudian menunjukkan arah rumahnya H.`Amilin.. lalu berangkatlah Abah Syaki dengan perasaan herannya mencari ke arah yang ditunjukkan oleh petani tersebut dan sesampainya di rumah H.`Amilin, betapa kagetnya Abah ternyata Abah H.`Amilin ialah petani yang ditemuinya tadi di lokasi persawahan.

Beliau sudah ada di rumah itu dan mengenalkan dirinya ialah yang dicari. Demikianlah selanjutnya Abah Syaki diceritakan kemudian menerima pelajaran Asmak dan hal inilah yang menyebabkan kemudian, setelah itu Abah direstui untuk membukapelajaran Hikmah di Cisoka, yang kemudian berdiri dengan nama Al-Hikmah.

Pada awalnya Abah menerima ilmu dari Pak Toha tanpa wiridan. Namun pada tahun 1957 saat detik-detik terakhir hayat Pak Toha, beliau menitipkan surat kepada adik Abah yang pada saat itu sedang aplusan dengan Abah menunggu Pak Toha, yang kemudian di sampaikan surat itu kepada Abah, yang ternyata isinya terdapat 3 lembar. Lembar pertama adalah syarat-syarat yang harus di pegang oleh para penerima ilmu. Lembar kedua isinya 6 wiridan yang sekarang menjadi salah satu kewajiban para ikhwan Al-Hikmah untuk memperkuat energi keilmuanya. Dan lembar ketiga adalah permohonan Pak Toha pada Abah untuk membantu keluarga Pak Toha dalam pengurusan penguburan Pak Toha.

Sepeninggal Pak Toha, Abah mulai mengembangkan keilmuanya sehingga sampai mempunyai ribuan anggota. Bahkan pada tahun 1965 anggotanya di Lampung mencapai 10.000 orang. Saat itu namanya belum Al-Hikmah, tetapi masih KSBPI (Kesatuan Seni Budi Pekerti Islam) dan masih satu rumpun dengan SINLAMBA

Namun karena banyak berselisih faham dengan murid Pak Toha yang lainya Abah pun shalat istikharah yang akhirnya mendapatkan petunjuk untuk memberi nama dengan ALHIKMAH. Kemudian Berdirilah Perguruan AL-HIKMAH dengan Guru Besar “ABAH HAJI SYAKI ABDUL SYUKUR” dengan basik keilmuan dari Abah Haji Toha dan Abah Haji Amilin.


Sekelumit Al-Hikmah
AL-HIKMAH berasal dari kata: HAKAMA_ YAHKUMU_HIKMATAN, sedang kalau kata jama'nya AL HIKMAH kurang lebihnya berarti: Ilmu pengetahuan, kebenaran, keadilan, kebijaksanaan, filsafat, perkataan yang sesuai, benar dan penuh kebaikan.

Lebih luas lagi bisa kita jabarkan bahwa ilmu al hikmah adalah ilmu yang hak, benar, yang diambil dari hikmah asma allah al’zhom, hikmah ayat-ayat al-quran dan doa-doa yang mustajab untuk mencapai keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan zhohir dan batin dunia akhirat dengan cara mendekatkan diri kepada allah swt, taqarrub ilallah.

Dengan ilmu alhikmah ini diharapkan menjadi kunci masuk dalam mencapai tahapan Takhalli (pembersihan hati), Tahalli (mengisi hati dengan mengingat Allah) dan Tajalli (Datangnya kebahagiaan karena ridho Allah). Dengan demikian siapapun pengamal (ikhwan) Al-Hikmah diharapkan dapat mencapai tataran sebagai insan kamil (manusia yang sempurna). Aamiin.


Teknik & Tingkatan Al-Hikmah
Tingkatan pertama adalah keilmuan dari garis keilmuan (lineage) Abah Haji Toha. Pada tingkatan ini para calon ikhwan harus terlebih dahulu diberikan pembangkitan (attunement) dengan cara di gores di perut oleh seorang perawat Al-Hikmah. Dan kemudian ikhwan yang sudah di gores diberikan 6 wirid pokok yang harus didawamkan dalam 7 hari berturut-turaut ba’da shalat wajib. Jika tahapan “penguncian” ini dilakukan, maka wirid bebas dilakukan kapan saja. Pada tingkat pertama ini, ikhwan harus belajar dan mampu melakuakan teknik “kedut” Al- Hikmah untuk antisipasi serangan atau berbagai kebutuhan lainnya. Proses pengencangan perut, melalui diafragma intinya adalah fokus pengencangan/kedut pada "dua jari diatas pusar". Pada tahapan praktis dan aplikatif, apapun yang terjadi atau dibutuhkan lakukan dengan kedut/kencangkan/kompres perut.

Tingkatan kedua adalah keilmuan dari garis keilmuan (lineage) Abah Haji Amilin. Para ikhwan yang sudah merasa naik tingkat harus di cek dulu oleh perawat apakah dirasa berhak untuk “naik tingkat” atau tidak. Pada tahapan ini ikhwan akan dibangkitkan dengan fokus pada kekuatan tangan, alias sudah tidak fokus lagi pada perut. Cukup dengan kencangkan serta kibasan tangan musuh yang menyerang bisa terpental, tanpa perlu tahan nafas. Pada tahapan ini, berdasarkan wawancara dengan pewaris ilmu Al-Hikmah Haji Ade mengacu pada kekuatan “Cahaya Musa” yang memancar di tangan.

Tingkatan berikutnya adalah perawat, dimana ikhwan al-hikmah sudah di beri hak untuk mengisi pada media benda (air, cincin, pagar rumah dll) dan kemudian diberi hak untuk melakukan membangkitkan (attutnement / ”menggores”) ilmu alhikmah. Tentunya syarat untuk menjadi perawat, sangat tergantung dari ijin perawat al-hikmah.


Tentang Ilmu Al-Hikmah

Bohong Al-Hikmah tidak ada biayanya karena dulu setiap orang yang mau belajar ilmu Al-Hikmah membawa susu, pisang ambon, kopi, rokok, biskuit dan lain-lain. Itu simbol yang artinya setiap orang yang mau belajar ilmu Al-Hikmah kena sumpah harus sanggup melaksanakan segala perintah Allah S.W.T. dan sanggup menjauhi segala larangan-Nya, susu melambangkan harus syukur menerima manis, pisang ambon melambangkan bayi, maksiat yang dulu harus ditinggalkan atau ditobati, kopi melambangkan harus siap menghadapi pahit. Karena syarat-syarat tersebut dianggap Bid’ah, maka dengan ridho guru dihilangkanlah kebiasaan tersebut, padahal faedahnya apabila selesai latihan dapat minum susu, sedangkan kalau lapar ada makanan.

Ilmu Al-Hikmah yang bergerak di tangan syaratnya apabila melipat satu jari maka harus puasa selama satu bulan, sedangkan apabila melipat sepuluh jari maka puasanya selama sepuluh bulan, kalau tidak sanggup puasa, maka harus bayar (mud) pada fakir miskin. Hal tersebut tersebut dihilangkan oleh guru, maka tidak ada puasa. Namun rata-rata manusia rugi dan salah yang berawal dari keliru paham, contoh : apabila ada orang yang maju itu sebetulnya membantu, tapi tidak untuk orang yang keliru paham. Mereka mengganggap orang-orang yang maju sebagai penghalang, akibatnya timbul sifat hati hasud, sedangkan hasud dan maksiat itu berbeda. Hasud itu membakar seluruh amal ibadah kita baik doa maupun sodakoh sampai hancur tidak ada debunya. Tolong hindari sifat hasud tersebut. Sedangkan maksiat dapat menghabiskan amal ibadah kita tergantung dari besar kecilnya, maka saya himbau khususnya kepada seluruh anggota Al-Hikmah, umumnya kepada muslimin/muslimat hindari sifat hasud dan maksiat jika ingin kaya atau selamat diakhirat.

Al-Hikmah cara menggunakannya harus dengan praktek bukan dengan wirid contoh : ada barang kita dimasryk atau dimaghrib barang tersebut lupa di kunci atau di tinggal di luar rumah. Kita bisa mengeraskan perut dan bayangkan barang tersebut, namun kekuatannya yang disebut titipan hanya 24 jam, kalau sudah 24 jam harus dititip kembali. Contoh nyata : ada ikhwan Al-Hikmah dari Jasinga yang mempunyai toko di Tanah Abang, setelah pulang dari toko ke rumah baru ingat kalau tokonya belum dikunci, langsung dibayangkan toko tersebut dari rumah sambil perut dikeraskan dan kebetulan didalam toko tersebut sudah ada maling. Besok harinya ketika dia sampai di toko ternyata didapatinya si maling sudah kaku seperti patung.


Tata Cara dan Peraturan Dalam Ilmu Al-Hikmah
Ilmu Al-Hikmah tidak lepas dari hukum syara dan riwayat Nabi Muhammad S.A.W, contohnya walaupun sudah lincah atau mahir di Al-Hikmah jika belum punya istri tidak boleh di syahkan ngajar atau jadi pembina Al-Hikmah. Bila ada orang yang belum punya istri ternyata sudah mengajar Al-Hikmah, orang itu berarti telah melanggar peraturan Al-Hikmah. Dan bagi orang yang telah melanggar peraturan sebagaimana yang telah di tetapkan Al-Hikmah, maka dia akan menghadapi resikonya masing-masing. Dasar dalilnya adalah, nabi Muhammad S.A.W. belum dicap kenabian sebelum menikah dengan Siti Khadijah, itulah patokan menjadi Pembina atau Perawat Al-Hikmah dan tidak lepas dari hukum syara seluruh gerak-gerik dan tindak-tanduk Al-Hikmah.

Menurut sebuah pengalaman, ada seorang ikhwan yang belum mempunyai istri tapi ingin buru-buru menjadi Pembina atau Perawat ilmu Al-Hikmah. Akhirnya ikhwan tersebut menikahi seorang janda dan setelah beberapa bulan di syahkan menjadi Pembina atau Perawat ilmu Al-Hikmah, si janda itu pun langsung diceraikannya. Dengan kalimat resiko masing-masing, maka dia mendapatkan masalah sendiri. A. Tata cara ingin belajar ilmu Al-Hikmah, yaitu : 1. Aqil Baligh, itupun kalau sanggup mengerjakan segala perintah Allah S.W.T. dan sanggup meninggalkan segala larangan-Nya. 2. Bersih dari Hadast besar dan kecil. seandainya anak dibawah umur mau belajar ilmu Al-Hikmah, hukum bai’atnya harus diserahkan/diamanahkan kepada orang tua yang mengantarkan mereka, dalam hal ini apabila mereka sudah baligh atau dewasa, hukum bai’atnya harus disampaikan oleh orang tuanya dan apabila ada kegagalan setelah masuk Al-Hikmah, misalnya dengan berzina (jima’) dengan orang yang belum dinikahi maka mereka harus menunggu selama delapan tahun dengan cara baik-baik dalam arti bertobat dahulu. Dari beberapa pengalaman yang sudah terjadi seperti diatas, ada ikhwan mengadu ke Pembina atau Perawat Al-Hikmah, kemudian pengaduan tersebut ditanggapi dengan jawaban hanya disuruh mandi besar (junub) akhirnya ikhwan tersebut dirawat kembali.

Pengalaman tersebut resikonya menimpa diri masing-masing ikhwan dan Pembina atau ilmu tidak manfaat, sedangkan ada hadist Rasul yang berisi ancaman yang berbunyi : yang artinya : “siksaan yang paling berat bagi manusia dihari kiamat adalah mereka yang punya ilmu tetapi tidak bermanfaat, maha suci Allah S.W.T. “ 3. Mampu mengeraskan perut. Tolak ukur dari pendidikan ilmu Al-Hikmah, tergantung dari cara mengeraskan perut. Kalau cara mengeraskan perutnya kurang keras, maka kurang puas hasilnya, namun apabila mengeraskan perutnya keras seperti batu, berbicara dan bernafas tidak terganggu serta badan tidak kaku, maka akan lebih puas hasilnya.

Menurut ucapan guru kita Abah H. Syaki, “wajib mengeraskan perut sambil menganggukkan kepala”. Adapun cara melatih untuk mengeraskan perut adalah membiasakan diri terlebih dahulu mengeraskan perut setiap ingin minum, makan, mandi dan tidur. Ini untuk memancing kebiasaan kita sehingga menjadi reflek terhadap hal-hal mengejutkan yang bersifat mengandung bahaya. Contoh : Perut terlebih dahulu dikeraskan, ketika kita ingin minum. Hal ini untuk mengantisipasi apabila minuman tersebut mengandung racun, maka Insya Allah gelasnya akan hancur. Begitu juga halnya ketika kita ingin makan, apabila didalam makanan tersebut mengandung barang yang haram maka makanan itu tidak bisa diambil. Dalam hal ini muncul pertanyaan, “Bagaimana kalau gelasnya terbuat dari plastik atau kaleng yang tidak bisa hancur ? ” maka jawabannya, “Gelas tersebut tidak akan pecah tetapi tidak bisa diambil”. Apabila ada seorang ikhwan Al-Hikmah yang di pukul, walaupun sudah mengeraskan perut ternyata masih bisa kena. Itu mencontohkan, bahwa tidak setiap Islam masuk surga. Kemudian apabila di pukul kena tapi tidak merasakan sakit dan badan tidak terluka, itu mencontohkan bahwa orang Islam ahli ibadah tetapi bukan ahli surga. Tehnik penggunaan ilmu Al-Hikmah adalah setiap menggunakannya hanya dengan mengeraskan perut sambil menyebut nama Allah (Allahu Akbar), tanpa harus terlebih dahulu membaca wirid, karena ilmu Al-Hikmah bukan Hijib. Atas dasar itulah guru kita Abah H. Syaki berpesan kepada seluruh Pembina atau Perawat ilmu Al-Hikmah, diwajibkan untuk terlebih dahulu mendidik muridnya bagaimana cara mengeraskan perut dan tidak boleh diijajahkan ilmu Al-Hikmah sebelum muridnya benar-benar bisa. B. Peraturan dalam mempelajari ilmu Al-Hikmah, yaitu : 1. Harus Islam, yaitu Islam yang sanggup menjalankan segala perintah Allah S.W.T dan menjauhi segala larangan-Nya. Jika tidak cukup syarat menurut hukum syara, maka batal (tidak boleh). Contoh : Orang luar Islam dirawat masuk Al-Hikmah, kenapa demikian karena mengutip dari ayat Al -Qur’an (Qs. : ) Barang siapa Pembina atau Perawat Al-Hikmah merawat diluar Islam, maka tunggu kehancurannya. Menurut riwayat, sebelum Pak Toha meninggal beliau sudah mengesahkan Pembina atau Perawat 60 orang termasuk Abah H. Syaki setelah diperhatikan oleh Abah H. Syaki diantara 60 orang kebanyakan ngerawat diluar Islam, dari situlah Abah H. Syaki berpikir dan berprinsip tidak mau sama-sama diakhirat nanti bersama orang-orang diluar Islam. Abah H. Syaki memisahkan diri dari SINLAMBA karena singkatan SINLAMBA (saudara lahir batin) artinya bersatu dari dunia sampai akhirat, umpamanya ke neraka ke nerakalah semua, kalau ke surga ke surgalah semuanya, itulah pepatah Pak Toha guru besar kita, maka yang terjadi Abah membentuk nama asosiasi KSBPI.

Setelah goyang dan bubar KSBPI tersebut maka Abah istikhoroh turunlah nama Al-Hikmah, maka sampai sekarang ilmu tersebut dinamakan ilmu Al-Hikmah. Sehingga ada julukan kata di mana di sebut Abah H. Syaki itu adalah Al-Hikmah dan begitu juga sebaliknya. Kenapa hasil istikhoroh turun Al-Hikmah? Karena sesuai dengan tingkah laku Abah H. Syaki yang bersifatkan amar ma’ruf nahi mungkar. 2. Jika ada ikhwan/akhwat Al-Hikmah yang melakukan zina, maka harus bertahan selama delapan tahun untuk tidak dirawat dulu. Setelah melewati masa delapan tahun, maka silahkan ikhwan/akhwat tersebut dirawat kembali dan ini adalah peraturan dalam ilmu Al-Hikmah. Jika sebelum delapan tahun ikhwan/akhwat tersebut memaksa ingin dirawat kembali, kemudian Pembina atau Perawatnya mengabulkan permintaan ikhwan/akhwat tersebut, maka resikonya akan menimpa si ikhwan/akhwat dan Pembina atau Perawatnya. 3. Jika ada seorang akhwat ingin belajar ilmu Al-Hikmah, sedangkan akhwat tersebut sudah mempunyai suami, maka Pembina atau Perawat ilmu Al-Hikmah harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari suami akhwat tersebut. Hal ini untuk mencegah fitnah yang akan timbul dikemudian hari. Tolong patuhi peraturan-peraturan yang terdapat dalam ilmu Al-Hikmah, pertahankanlah amanat guru jangan sampai resiko menimpa diri kita masing-masing. Itulah pandangan saya atau pengalaman saya terhadap perkembangan ilmu Al-Hikmah yang semakin merosot dan tidak bermanfaat. C. Adab Menerima Tamu non Muslim atau diluar Islam. Cara menerima tamu non muslim atau diluar Islam, apabila minta obat karena sakit atau minta syarat usaha itu boleh, asal jangan dikasih kekuatan, alasannya karena pada suatu saat nanti apabila terjadi perang antar agama, takut membahayakan kita. Konon riwayatnya pada zaman nabi Ibrahim pada waktu itu ada seorang raja kafir bilang jangan ikut agama Ibrahim karena agamanya susah dan nabi Ibrahim tidak menyembah api maka di akhirat nanti akan di bakar oleh api menurut raja kafir. Maka mereka menyembah api dengan kenyakinan bahwa api neraka akan jinak. Tetapi dari zaman nabi Adam sampai hari kiamat nanti tidak setiap orang kafir itu kaya dan tidak setiap orang Islam itu miskin, itulah perjalanan dunia yang telah diatur oleh Allah S.W.T. Namun tiba-tiba nabi Ibrahim kedatangan seorang kafir yang miskin, nabi Ibrahim tersinggung oleh perkataan raja kafir tadi kemudian nabi Ibrahim mengusir orang kafir yang miskin tadi, tetapi tidak mau pergi akhirnya nabi Ibrahim yang pergi. Di tengah perjalanan Nabi Ibrahim mendapat teguran Allah S.W.T. dengan mengutus malaikat Jibril untuk berkata : “kamu hanya disuruh menyampaikan amanat tapi kenapa kamu marah, sedangkan Aku (Allah) sudah memberikan Rizki kepada mereka (orang-orang kafir) namun mereka tidak percaya pada Aku (Allah) akan tetapi Aku tidak marah karenanya“ Akhirnya nabi Ibrahim kembali dan menghormati tamu si kafir tadi, maka dapat diambil kesimpulan bahwa menerima tamu orang kafir itu boleh tetapi jangan mendoakannya. Riwayatnya, nabi Ibrahim pernah mendoakan bapaknya yang kafir namun ditolak do’anya oleh Allah S.W.T.


Masalah Wirid Dalam Al-Hikmah
artinya adalah doa, doa itu ibadah. Namanya doa adalah ; shalat, shalawat, tasbih, tahmid, dzikir, baca Al-Qur’an. Doa untuk kekayaan akhirat, sedangkan Ibadah yang dibayar tunai itu adalah doa, sodakoh, zakat, zakat fitrah, nafkah anak istri, infak, memberikan nafkah kepada kedua orang tua yang miskin adalah wajib, sedangkan Wirid, silahkan anda baca sebanyak-sebanyaknya karena itu untuk kekayaan akhirat. Wirid kepada kedua orang tua yang mampu adalah sunah, ibadah sodakoh sunah jariyah fakir miskin. Maka kalau ingin kaya di akhirat ibadah ini harus diperbanyak. Kalau takut miskin ingin kaya sungguh-sungguhlah dalam berusaha, artinya kalau ingin ke surga takut ke neraka, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah. Tidak akan kaya usaha di dunia kalau tidak dibarengi dengan ilmunya, artinya dari ibadah tadi diambil barokahnya kalau ilmu ingin manfaat.

Wirid : Itu adalah Ijma atau Qiyas ulama dititipkan sama yang mengamal Al-Hikmah, karena para ulama mengetahui kelemahan kelemahan kita, dikasih wiridpun tidak ingat sama Allah S.W.T., apalagi tidak kasih wirid, namun wirid tersebut harus diamalkan karena wirid dan ngamal itu beda. Wirid adalah ucapan atau omongan, sedangkan ngamal itu adalah ucapan yang disertai dengan pelaksanaan. Kalimat amal itu berasal dari bahasa arab yang artinya kerja. konon riwayatnya dari rasulullah ke anas bin malik satu riwayat ke abi yashar satu riwayat ke abi umamah dua riwayat namun kesimpulan tiga sahabat empat riwayat barang siapa sering membaca doa tersebut akan diangkat derajatnya diakhirat barang siapa membaca doa tersebut diatas tadi dipakai maksiat kemudian berhasil itu khadamnya syetan, karena tukang santet apabila ingin menyantet membaca shalawat untuk menundukan jin yang diperintahnya, maka kita mengusirnya pun harus dengan membaca shalawat. Riwayat wirid pada mulanya simpang siur.

Karena pada zaman Abah H. Syaki, beliau tidak dikasih wirid atau doa oleh Pak Toha. Sedangkan pada waktu itu Abah sering pergi keluar. Ketika Abah sedang tidak dirumah, datang tamu yang dilayani oleh bapaknya atau adiknya, yang akhirnya kalau ditanya masalah wirid dikasih sembarangan contoh : bahasa jawokan. Anggapan para tamu adalah bahwa Abah H. Syaki dapat ilmu dari bapaknya, padahal Abah H. Syaki justru membina atau merawat tetangganya terlebih dahulu dilanjutkan adiknya (H. Surnita) lalu bapaknya (Abah Sartawi). Dari situlah wiridan simpang siur. Setelah saya (H. Iskandar) terjun ke Al-Hikmah wiridan Al-Hikmah baru dibenahi.


Al-Hikmah dan Hubungannya Dengan Khodam

Kita sebagai ikhwan/akhwat Al-Hikmah harus bisa membedakan, mana khadam soleh dan mana khadam salah. Karena diambil dari beberapa riwayat, jangankan benda mati, setiap benda yang lahirpun diberi khadam oleh Allah S.W.T. yaitu sebanyak sepuluh Malaikat, namun direbut oleh segerombolan syetan. Contohnya seperti setiap bayi yang baru lahir di sunahkan untuk di azdanin, tujuannya untuk mengusir syetan supaya Malaikat lebih dekat. Maka kita harus bisa membedakan mana khadam soleh dan mana khadam salah. Contoh yang paling gampang, apabila kita banyak beribadah maka jelas itu khadamnya adalah Malaikat yang sepuluh. Sebaliknya apabila kita banyak berbuat maksiat maka khadamnya adalah syetan. Jika memakai benda berupa ajimat kemudian dipakai untuk ibadah, maka khadamnya adalah Malaikat yang sepuluh. Begitu juga sebaliknya jika dipakai berbuat maksiat dan berhasil, maka ajimat tersebut khadamnya adalah syetan. Karena syetan menginginkan kita supaya kita lebih banyak berbuat maksiat. Jadi yang disebut dengan khadam soleh, khadamnya adalah Malaikat, sedangkan khadam salah, kadamnya adalah syetan. Konon sering ada kejadian, jika ajimat yang dari Al-Hikmah dibawa maksiat, maka pada terbang, mungkin khadam ajimat tersebut adalah sepuluh Malaikat, tetapi khadam tersebut bukan dari penulis ajimat tersebut, kemungkinan khadam yang pada diri masing-masing yang memakai ajimat itu.

Tapi jika ajimat tersebut dipakai maksiat tidak terbang dan berhasil, maka khadam ajimat tersebut adalah syetan yang ada pada diri masing-masing pemakai ajimat tersebut. Saya ngambil pengalaman banyak sekali Pembina atau Perawat Al-Hikmah atau anggota Al-Hikmah merasa kedatangan Pak Toha, Abah H. Syaki, atau kedatangan H. Iskandar ketika sedang wirid ditengah malam, dia punya pendapat atau perasaanya itu orang tua beneran padahal mutlak itu adalah syetan menyerupai sang guru? Karena anggota tersebut sedang idola kepada gurunya setelah terpengaruhi karena dianggap gurunya, nanti sama syetan di sasarkan itulah tipuan syetan. Karena saya pribadi atas nama ikhwan Al-Hikmah sebagai murid Abah H. Syaki saya tidak senang dan tidak ridho guru besar saya sekaligus orang tua saya dijadikan marakhayangan (penampakan), sedangkan saya dan yang lainnya setiap saat setiap waktu memohonkan ampun kepada Allah S.W.T. supaya diberikan rahmat. Memang ada pesan dari seluruh guru, dimana kesulitan ingatlah guru bukan menghadirkan guru. Dan supaya lebih mengerti, hati-hatilah terhadap masalah khadam. Barang siapa dirinya merasa mengIslamkan jin anak buah syetan, syetan anak buah iblis orang tersebut sudah ketipu, Allah S.W.T. berfirman dalam ( QS Al-Baqarah ) yaitu : Dulu riwayatnya iblis minta tolong sama nabi Musa. Kata iblis wahai nabi Musa aku ingin masuk ke surga coba tolong tanyakan kepada Allah apa yang harus aku lakukan? Nabi Musa menjawab : bohong kamu, sampai empat kali. Iblis menjawab: benar, sampai empat kali Nabi Musa bertanya kepada Allah : Ya robbi, iblis ingin ke surga apa yang harus mereka lakukan? Allah menjawab : bohong, sampai empat kali. Akhirnya Allah memberi cara dengan kalimat “kalau iblis ingin masuk kesurga ia harus sujud dikuburan nabi Adam as. Nabi Musa menjawab: untung dan enak amat si iblis. Akhirnya nabi Musa menghadap iblis dan menyampaikan apa yang di katakan oleh Allah. Kemudian iblis berangkat menuju kekuburan nabi Adam as, ditengah perjalanan iblis berkata “hina amat gue kalau sampai sujud di kuburan nabi Adam as. yang telah menjadi mayat, sedangkan waktu dia hidup gue ogah untuk sujud” Maka turunlah ayat : “aba was takbaro” yang artinya : Si Iblis adalah pembohong yang paling besar”, istilah penyakit tidak ada obatnya. Lengkapnya apabila anak buah iblis menggoda manusia tidak berhasil maka kaki dan tangannya diikat lalu di buang kesamudera tidak dibuka sampai hari kiamat nanti dan bagi kita menurut keterangan hukum jangan pernah pelihara jin, karena tidak dipeliharapun jin sudah banyak disekeliling kita. Syetan menggoda manusia dengan cara baik setelah terpengaruh atau dikuasai baru disasarkan. Allah S.W.T tidak akan berbisik kepada manusia yang berbisik kepada manusia adalah syetan. Itulah yang menjadi patokan supaya kita jangan sampai tertipu oleh syetan, maka turun ayat : artinya :” aku berlindung kepada allah dari godaan syetan yang terkutuk” Kamu tidak akan mampu melawan syetan karena syetan mempunyai kesaktian hanya dengan pertolongan-Ku (Allah) bisa mengalahkannya untuk lebih lengkapnya boleh di pelajari dari riwayat lain yang lebih lengkap.




Di susun kembali oleh:
Muhammad Toni Darussalam, SPS., MA.
“99” MANAGEMENT (Active Creative Innovative)

 

Copyright 2018 "99" Management Indonesia All Rights Reserved